Mulla Sadra: Ketika Filsafat Menjadi Jalan Pulang kepada Tuhan - Lintar

Breaking

Selasa, 16 Juni 2026

Mulla Sadra: Ketika Filsafat Menjadi Jalan Pulang kepada Tuhan

Ada filsafat yang hanya membuat orang pandai berdebat. Ada pula filsafat yang mengubah cara manusia memandang hidup. Mulla Sadra berada pada jenis kedua. Ia bukan sekadar filsuf yang menyusun konsep rumit tentang Tuhan, alam, jiwa, dan pengetahuan. Ia adalah pemikir yang menjadikan filsafat sebagai perjalanan batin: dari kebingungan menuju kejernihan, dari sekadar berpikir menuju menjadi. Nama lengkapnya adalah Ṣadr al-Dīn Muḥammad ibn Ibrāhīm al-Shīrāzī, lebih dikenal sebagai Mulla Sadra. Ia lahir di Shiraz sekitar 1571–1572 M. Tahun wafatnya dalam sejumlah sumber ditulis berbeda, antara 1635–1636 atau 1640–1641 M. Encyclopaedia Iranica menyebutnya sebagai salah satu filsuf Islam paling penting setelah Ibn Sina, terutama karena ia merevolusi pembahasan tentang eksistensi dalam metafisika Islam.



Gambar ilustrasi: dibuat dengan bantuan AI berdasarkan imajinasi visual tentang Mulla Sadra dan tradisi intelektual Islam-Persia. Ilustrasi ini bersifat artistik, bukan potret historis resmi.


Hidup di Tengah Penolakan

Seperti banyak pemikir besar, Mulla Sadra tidak hidup dalam tepuk tangan. Ia menghadapi kritik keras dari lingkungan intelektual zamannya. Setelah mengalami tekanan, ia menarik diri ke Kahak, sebuah desa dekat Qom. Di sana ia menjalani kontemplasi, ibadah, dan penyusunan karya-karya besar. Stanford Encyclopedia of Philosophy mencatat bahwa masa pengasingan itu berkaitan dengan lahirnya karya utamanya, al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah fī al-Asfār al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah, yang lebih dikenal sebagai al-Asfār al-Arba‘ah. Kisah ini menarik. Dalam hidup Mulla Sadra, penolakan tidak membunuh pemikiran. Justru dari sunyi, lahir kedalaman. Ia tidak menjawab kegaduhan dengan kegaduhan, tetapi dengan karya. Inilah pelajaran pertama dari Mulla Sadra: kadang, manusia perlu mundur dari keramaian agar dapat melihat realitas dengan lebih jernih.

Al-Hikmah al-Muta‘āliyah: Sintesis Akal, Wahyu, dan Intuisi

Pemikiran Mulla Sadra dikenal sebagai al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah, sering diterjemahkan sebagai Filsafat Transenden atau Kebijaksanaan Transenden. Istilah ini tidak boleh dipahami sebagai filsafat yang melayang jauh dari kehidupan. Justru sebaliknya, ia berusaha menyatukan tiga jalan besar: burhān atau demonstrasi rasional, ‘irfān atau intuisi spiritual, dan wahyu sebagai sumber kebenaran agama.

Di sinilah Mulla Sadra menjadi penting. Ia tidak mempertentangkan akal dan wahyu secara kaku. Ia juga tidak menelan pengalaman mistik tanpa disiplin intelektual. Dalam tradisi Sadrian, pencarian kebenaran membutuhkan kejernihan berpikir, kesucian batin, dan kesetiaan pada sumber-sumber keagamaan. Stanford Encyclopedia menilai pencapaian Mulla Sadra terletak pada kemampuannya menyintesiskan akal, intuisi, iman, penyelidikan rasional, filsafat, dan mistisisme.

Al-Asfār: Filsafat sebagai Perjalanan

Karya terbesar Mulla Sadra, al-Asfār al-Arba‘ah, berarti “empat perjalanan”. Ini bukan judul yang sekadar puitis. Ia menggambarkan filsafat sebagai gerak manusia menuju Tuhan, bersama Tuhan, kembali ke dunia dengan kesadaran ketuhanan, lalu menjalani kehidupan dunia dengan pandangan yang telah disinari makna.

Encyclopaedia Iranica menjelaskan bahwa al-Asfār adalah magnum opus Mulla Sadra. Di dalamnya, ia tidak hanya membahas metafisika, tetapi juga Tuhan, jiwa, pengetahuan, gerak, waktu, kosmologi, dan eskatologi. Fazlur Rahman, dalam entri Encyclopaedia Iranica tentang al-Asfār, menyebut dua prinsip besar Mulla Sadra: aṣālat al-wujūd atau prinsipialitas eksistensi, dan pandangan bahwa eksistensi berada dalam arus gerak menuju kesempurnaan.

Inilah yang membuat Mulla Sadra berbeda dari filsuf kering yang sekadar menyusun definisi. Baginya, filsafat bukan hanya ilmu tentang “apa itu realitas”, tetapi juga latihan untuk menyadari posisi manusia di tengah realitas. Filsafat adalah perjalanan pulang.

Wujud: Yang Paling Dekat, tetapi Sering Terlupakan

Inti filsafat Mulla Sadra adalah wujūd, eksistensi. Pertanyaan mendasarnya sederhana tetapi mengguncang: apa yang paling nyata dari segala sesuatu? Apakah definisinya? Apakah bentuknya? Apakah namanya? Bagi Mulla Sadra, yang paling dasar adalah bahwa sesuatu itu ada. Kita bisa mendefinisikan manusia sebagai makhluk rasional. Kita bisa mendefinisikan pohon sebagai tumbuhan berkayu. Tetapi sebelum semua definisi itu, ada kenyataan yang lebih awal: manusia itu ada, pohon itu ada, alam ini ada. Maka, wujud lebih mendasar daripada mahiyah atau esensi. Dalam pembahasan Encyclopaedia Iranica, tesis penting Mulla Sadra adalah bahwa eksistensi merupakan realitas asli, sedangkan esensi hanyalah konsep mental yang muncul dalam pikiran.

Gagasan ini tampak abstrak, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan hidup kita. Banyak orang sibuk membangun “label” dirinya: jabatan, gelar, status, citra, dan pengakuan sosial. Mulla Sadra seperti mengingatkan: jangan hanya sibuk dengan apa yang tampak sebagai identitas. Tanyakan juga: seperti apa kualitas keberadaanmu?

Tashkīk al-Wujūd: Hidup Memiliki Derajat

Mulla Sadra juga mengajarkan tashkīk al-wujūd, yaitu kebertingkatan eksistensi. Wujud itu satu, tetapi hadir dalam tingkat intensitas yang berbeda. Seperti cahaya: cahaya lilin, lampu, bulan, dan matahari sama-sama cahaya, tetapi tidak sama kekuatannya.

Begitu pula manusia. Semua manusia “ada”, tetapi kualitas keberadaannya tidak sama. Ada yang hidup hanya untuk makan, bekerja, dan mengejar gengsi. Ada yang hidup dengan ilmu, kasih sayang, pengabdian, dan kesadaran akan Tuhan. Keduanya sama-sama manusia, tetapi tidak sama kedalaman wujudnya. Di titik ini, filsafat Mulla Sadra menjadi sangat etis. Ia tidak hanya bertanya, “Apa itu manusia?” tetapi juga, “Manusia seperti apa yang sedang engkau bentuk dalam dirimu?”

Gerak Substansial: Manusia Tidak Pernah Selesai

Salah satu gagasan paling berani dari Mulla Sadra adalah al-ḥarakah al-jawhariyyah, atau gerak substansial. Sebelum Mulla Sadra, perubahan sering dipahami hanya terjadi pada permukaan: warna berubah, ukuran berubah, posisi berubah. Namun, Mulla Sadra melihat perubahan lebih dalam. Alam tidak hanya berubah pada aksidennya, tetapi juga pada substansinya. Artinya, realitas tidak diam. Alam bergerak. Jiwa bergerak. Manusia bergerak. Kita bukan makhluk yang selesai sejak lahir. Kita menjadi. Kita dibentuk oleh ilmu, amal, cinta, dosa, taubat, luka, doa, dan pengalaman.

Dalam artikel Rahmat Effendi di Tribakti: Jurnal Pemikiran Keislaman, bangunan metafisika Mulla Sadra dijelaskan melalui konsep-konsep seperti aṣālat al-wujūd, tashkīk al-wujūd, al-ḥarakah al-jawhariyyah, filsafat jiwa, dan kenabian. Artikel itu juga menegaskan bahwa filsafat wujud menjadi kunci untuk memahami keseluruhan sistem Sadrian.

Ilmu yang Mengubah Diri

Bagi Mulla Sadra, ilmu sejati bukan hanya informasi. Ilmu adalah perubahan kualitas jiwa. Di sinilah manusia modern perlu merasa tersindir. Kita hidup di zaman banjir informasi. Setiap hari kita membaca kutipan, menonton ceramah, mengikuti diskusi, dan menyimpan banyak tautan. Namun, apakah semua itu membuat kita lebih jernih, lebih rendah hati, lebih adil, dan lebih dekat kepada Tuhan?

Jika ilmu hanya berhenti sebagai data, ia belum menjadi hikmah. Dalam kerangka Mulla Sadra, pengetahuan yang benar harus menyentuh keberadaan manusia. Ilmu seharusnya membentuk akhlak. Pemahaman seharusnya melahirkan kelembutan. Kecerdasan seharusnya membawa tanggung jawab.

Fathul Mufid, dalam artikel “Metode Memperoleh Ilmu Huduri Menurut Mulla Sadradi Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam, membahas dimensi pengetahuan dalam filsafat Mulla Sadra, terutama terkait ilmu huduri, yaitu pengetahuan yang hadir secara langsung dalam kesadaran, bukan sekadar representasi konseptual.

Mulla Sadra dan Al-Qur’an

Mulla Sadra bukan filsuf yang menjauh dari kitab suci. Ia menulis karya-karya yang berkaitan dengan tafsir dan hermeneutika Al-Qur’an, seperti Mafātīḥ al-Ghayb. Mohammed Rustom menulis kajian tentang prolegomena Mafātīḥ al-Ghayb dalam Journal of Qur’anic Studies, dan menunjukkan bahwa karya itu penting untuk memahami hermeneutika Qur’ani Mulla Sadra.

Ini penting karena sering kali filsafat dicurigai sebagai jalan yang menjauhkan manusia dari agama. Pada Mulla Sadra, yang terjadi justru sebaliknya. Filsafat menjadi alat untuk membaca realitas secara lebih dalam. Wahyu tidak diperlakukan sebagai teks mati, tetapi sebagai cahaya yang mengarahkan akal dan jiwa.

Relevansi untuk Hari Ini

Mengapa Mulla Sadra masih penting? Karena manusia modern sering kehilangan kedalaman. Kita hidup cepat, tetapi belum tentu bergerak menuju makna. Kita semakin produktif, tetapi belum tentu semakin utuh. Kita semakin banyak tahu, tetapi belum tentu semakin bijak. Mulla Sadra mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar bertahan, bekerja, dan mencapai target. Hidup adalah perjalanan wujud. Setiap hari, manusia sedang menjadi sesuatu. Pertanyaannya: menjadi lebih terang atau lebih gelap? Menjadi lebih dekat kepada Tuhan atau lebih jauh dari nurani?

Di tengah dunia yang sering mengukur manusia dari angka—gaji, jabatan, pengikut, skor, popularitas—Mulla Sadra mengajak kita melihat ukuran lain: kualitas keberadaan. Apakah ilmu kita membuat kita rendah hati? Apakah ibadah kita membuat kita lebih adil? Apakah hidup kita memancarkan rahmat?

Penutup: Jalan Pulang Bernama Hikmah

Mulla Sadra bukan sekadar nama dalam sejarah filsafat Islam. Ia adalah pengingat bahwa berpikir tidak boleh berhenti pada kepala. Filsafat harus menyalakan batin. Ilmu harus menjadi akhlak. Iman harus melahirkan kedalaman. Dan manusia harus terus bergerak menuju kesempurnaan wujudnya. Dalam bahasa yang sederhana, Mulla Sadra sedang berkata kepada kita: jangan hanya hidup. Jadilah hidup yang bercahaya.


✍ Kolumnus Syauqi Aulade Ghifari
📝 Editor Dindin Moh Saepudin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar