Gambar ilustrasi: dibuat dengan bantuan AI berdasarkan imajinasi visual tentang Mulla Sadra dan tradisi intelektual Islam-Persia. Ilustrasi ini bersifat artistik, bukan potret historis resmi.
Hidup di Tengah Penolakan
Seperti banyak pemikir besar, Mulla Sadra tidak hidup dalam tepuk tangan. Ia menghadapi kritik keras dari lingkungan intelektual zamannya. Setelah mengalami tekanan, ia menarik diri ke Kahak, sebuah desa dekat Qom. Di sana ia menjalani kontemplasi, ibadah, dan penyusunan karya-karya besar. Stanford Encyclopedia of Philosophy mencatat bahwa masa pengasingan itu berkaitan dengan lahirnya karya utamanya, al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah fī al-Asfār al-‘Aqliyyah al-Arba‘ah, yang lebih dikenal sebagai al-Asfār al-Arba‘ah. Kisah ini menarik. Dalam hidup Mulla Sadra, penolakan tidak membunuh pemikiran. Justru dari sunyi, lahir kedalaman. Ia tidak menjawab kegaduhan dengan kegaduhan, tetapi dengan karya. Inilah pelajaran pertama dari Mulla Sadra: kadang, manusia perlu mundur dari keramaian agar dapat melihat realitas dengan lebih jernih.
Al-Hikmah al-Muta‘āliyah: Sintesis Akal, Wahyu, dan Intuisi
Pemikiran
Mulla Sadra dikenal sebagai al-Ḥikmah al-Muta‘āliyah, sering
diterjemahkan sebagai Filsafat Transenden atau Kebijaksanaan
Transenden. Istilah ini tidak boleh dipahami sebagai filsafat yang melayang
jauh dari kehidupan. Justru sebaliknya, ia berusaha menyatukan tiga jalan
besar: burhān atau demonstrasi rasional, ‘irfān atau intuisi
spiritual, dan wahyu sebagai sumber kebenaran agama.
Di
sinilah Mulla Sadra menjadi penting. Ia tidak mempertentangkan akal dan wahyu
secara kaku. Ia juga tidak menelan pengalaman mistik tanpa disiplin
intelektual. Dalam tradisi Sadrian, pencarian kebenaran membutuhkan kejernihan
berpikir, kesucian batin, dan kesetiaan pada sumber-sumber keagamaan. Stanford
Encyclopedia menilai pencapaian Mulla Sadra terletak pada kemampuannya
menyintesiskan akal, intuisi, iman, penyelidikan rasional, filsafat, dan
mistisisme.
Al-Asfār: Filsafat sebagai Perjalanan
Karya terbesar Mulla Sadra, al-Asfār al-Arba‘ah, berarti
“empat perjalanan”. Ini bukan judul yang sekadar puitis. Ia menggambarkan
filsafat sebagai gerak manusia menuju Tuhan, bersama Tuhan, kembali ke dunia
dengan kesadaran ketuhanan, lalu menjalani kehidupan dunia dengan pandangan
yang telah disinari makna.
Encyclopaedia Iranica menjelaskan bahwa al-Asfār adalah
magnum opus Mulla Sadra. Di dalamnya, ia tidak hanya membahas metafisika,
tetapi juga Tuhan, jiwa, pengetahuan, gerak, waktu, kosmologi, dan eskatologi.
Fazlur Rahman, dalam entri Encyclopaedia Iranica tentang al-Asfār,
menyebut dua prinsip besar Mulla Sadra: aṣālat al-wujūd atau
prinsipialitas eksistensi, dan pandangan bahwa eksistensi berada dalam arus
gerak menuju kesempurnaan.
Inilah yang membuat Mulla Sadra berbeda dari filsuf kering yang
sekadar menyusun definisi. Baginya, filsafat bukan hanya ilmu tentang “apa itu
realitas”, tetapi juga latihan untuk menyadari posisi manusia di tengah
realitas. Filsafat adalah perjalanan pulang.
Wujud: Yang Paling Dekat, tetapi Sering Terlupakan
Inti filsafat Mulla Sadra adalah wujūd, eksistensi. Pertanyaan mendasarnya sederhana tetapi mengguncang: apa yang paling nyata dari segala sesuatu? Apakah definisinya? Apakah bentuknya? Apakah namanya? Bagi Mulla Sadra, yang paling dasar adalah bahwa sesuatu itu ada. Kita bisa mendefinisikan manusia sebagai makhluk rasional. Kita bisa mendefinisikan pohon sebagai tumbuhan berkayu. Tetapi sebelum semua definisi itu, ada kenyataan yang lebih awal: manusia itu ada, pohon itu ada, alam ini ada. Maka, wujud lebih mendasar daripada mahiyah atau esensi. Dalam pembahasan Encyclopaedia Iranica, tesis penting Mulla Sadra adalah bahwa eksistensi merupakan realitas asli, sedangkan esensi hanyalah konsep mental yang muncul dalam pikiran.
Gagasan ini tampak abstrak, tetapi sebenarnya sangat dekat dengan
hidup kita. Banyak orang sibuk membangun “label” dirinya: jabatan, gelar,
status, citra, dan pengakuan sosial. Mulla Sadra seperti mengingatkan: jangan
hanya sibuk dengan apa yang tampak sebagai identitas. Tanyakan juga: seperti
apa kualitas keberadaanmu?
Tashkīk al-Wujūd: Hidup Memiliki Derajat
Mulla Sadra juga mengajarkan tashkīk al-wujūd, yaitu
kebertingkatan eksistensi. Wujud itu satu, tetapi hadir dalam tingkat
intensitas yang berbeda. Seperti cahaya: cahaya lilin, lampu, bulan, dan
matahari sama-sama cahaya, tetapi tidak sama kekuatannya.
Begitu pula manusia. Semua manusia “ada”, tetapi kualitas keberadaannya tidak sama. Ada yang hidup hanya untuk makan, bekerja, dan mengejar gengsi. Ada yang hidup dengan ilmu, kasih sayang, pengabdian, dan kesadaran akan Tuhan. Keduanya sama-sama manusia, tetapi tidak sama kedalaman wujudnya. Di titik ini, filsafat Mulla Sadra menjadi sangat etis. Ia tidak hanya bertanya, “Apa itu manusia?” tetapi juga, “Manusia seperti apa yang sedang engkau bentuk dalam dirimu?”
Gerak Substansial: Manusia Tidak Pernah Selesai
Salah satu gagasan paling berani dari Mulla Sadra adalah al-ḥarakah al-jawhariyyah, atau gerak substansial. Sebelum Mulla Sadra, perubahan sering dipahami hanya terjadi pada permukaan: warna berubah, ukuran berubah, posisi berubah. Namun, Mulla Sadra melihat perubahan lebih dalam. Alam tidak hanya berubah pada aksidennya, tetapi juga pada substansinya. Artinya, realitas tidak diam. Alam bergerak. Jiwa bergerak. Manusia bergerak. Kita bukan makhluk yang selesai sejak lahir. Kita menjadi. Kita dibentuk oleh ilmu, amal, cinta, dosa, taubat, luka, doa, dan pengalaman.
Dalam artikel Rahmat Effendi di Tribakti: Jurnal Pemikiran
Keislaman, bangunan metafisika Mulla Sadra dijelaskan melalui konsep-konsep
seperti aṣālat al-wujūd, tashkīk al-wujūd, al-ḥarakah al-jawhariyyah, filsafat
jiwa, dan kenabian. Artikel itu juga menegaskan bahwa filsafat wujud menjadi
kunci untuk memahami keseluruhan sistem Sadrian.
Ilmu yang Mengubah Diri
Bagi
Mulla Sadra, ilmu sejati bukan hanya informasi. Ilmu adalah perubahan kualitas
jiwa. Di sinilah manusia modern perlu merasa tersindir. Kita hidup di zaman
banjir informasi. Setiap hari kita membaca kutipan, menonton ceramah, mengikuti
diskusi, dan menyimpan banyak tautan. Namun, apakah semua itu membuat kita
lebih jernih, lebih rendah hati, lebih adil, dan lebih dekat kepada Tuhan?
Jika
ilmu hanya berhenti sebagai data, ia belum menjadi hikmah. Dalam kerangka Mulla
Sadra, pengetahuan yang benar harus menyentuh keberadaan manusia. Ilmu
seharusnya membentuk akhlak. Pemahaman seharusnya melahirkan kelembutan.
Kecerdasan seharusnya membawa tanggung jawab.
Fathul
Mufid, dalam artikel “Metode Memperoleh Ilmu Huduri Menurut Mulla Sadra”
di Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam, membahas dimensi pengetahuan dalam
filsafat Mulla Sadra, terutama terkait ilmu huduri, yaitu pengetahuan yang
hadir secara langsung dalam kesadaran, bukan sekadar representasi konseptual.
Mulla Sadra dan Al-Qur’an
Mulla
Sadra bukan filsuf yang menjauh dari kitab suci. Ia menulis karya-karya yang
berkaitan dengan tafsir dan hermeneutika Al-Qur’an, seperti Mafātīḥ al-Ghayb.
Mohammed Rustom menulis kajian tentang prolegomena Mafātīḥ al-Ghayb
dalam Journal of Qur’anic Studies, dan menunjukkan bahwa karya itu
penting untuk memahami hermeneutika Qur’ani Mulla Sadra.
Ini
penting karena sering kali filsafat dicurigai sebagai jalan yang menjauhkan
manusia dari agama. Pada Mulla Sadra, yang terjadi justru sebaliknya. Filsafat
menjadi alat untuk membaca realitas secara lebih dalam. Wahyu tidak
diperlakukan sebagai teks mati, tetapi sebagai cahaya yang mengarahkan akal dan
jiwa.
Relevansi untuk Hari Ini
Mengapa Mulla Sadra masih penting? Karena manusia modern sering kehilangan kedalaman. Kita hidup cepat, tetapi belum tentu bergerak menuju makna. Kita semakin produktif, tetapi belum tentu semakin utuh. Kita semakin banyak tahu, tetapi belum tentu semakin bijak. Mulla Sadra mengajarkan bahwa hidup bukan sekadar bertahan, bekerja, dan mencapai target. Hidup adalah perjalanan wujud. Setiap hari, manusia sedang menjadi sesuatu. Pertanyaannya: menjadi lebih terang atau lebih gelap? Menjadi lebih dekat kepada Tuhan atau lebih jauh dari nurani?
Di
tengah dunia yang sering mengukur manusia dari angka—gaji, jabatan, pengikut,
skor, popularitas—Mulla Sadra mengajak kita melihat ukuran lain: kualitas
keberadaan. Apakah ilmu kita membuat kita rendah hati? Apakah ibadah kita
membuat kita lebih adil? Apakah hidup kita memancarkan rahmat?
Penutup: Jalan Pulang Bernama Hikmah
Mulla Sadra bukan sekadar nama dalam sejarah filsafat Islam. Ia adalah pengingat bahwa berpikir tidak boleh berhenti pada kepala. Filsafat harus menyalakan batin. Ilmu harus menjadi akhlak. Iman harus melahirkan kedalaman. Dan manusia harus terus bergerak menuju kesempurnaan wujudnya. Dalam bahasa yang sederhana, Mulla Sadra sedang berkata kepada kita: jangan hanya hidup. Jadilah hidup yang bercahaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar