Buya Hamka: Menjadi Muslim Tanpa Kehilangan Indonesia - Lintar

Breaking

Minggu, 07 Juni 2026

Buya Hamka: Menjadi Muslim Tanpa Kehilangan Indonesia

Pernahkah kita memperhatikan mengapa sebagian orang merasa harus terlihat "lebih Arab" agar dianggap lebih Islami? Di media sosial, perdebatan soal pakaian, istilah bahasa, hingga tradisi lokal sering kali muncul seolah-olah menjadi ukuran kesalehan seseorang. Di tengah perdebatan itu, pemikiran Buya Hamka terasa semakin relevan. Ia menawarkan sebuah gagasan sederhana tetapi mendalam: menjadi muslim yang baik tidak berarti harus kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia. Bagi Hamka, Islam bukanlah identitas budaya tertentu yang harus disalin mentah-mentah. Islam adalah nilai, sedangkan budaya adalah wadah. Nilai yang sama bisa hadir dalam bentuk yang berbeda-beda sesuai ruang dan waktu. Karena itu, seorang muslim Indonesia tidak perlu merasa kurang Islami hanya karena mengenakan peci, berbicara dalam bahasa daerah, atau melestarikan tradisi lokal yang tidak bertentangan dengan ajaran agama.


gambar ini  merupaka ilustrasi AI

Islam sebagai Jiwa, Budaya sebagai Pakaian

Bayangkan sebuah listrik yang mengalir ke berbagai perangkat. Energinya sama, tetapi bentuk alat yang digunakannya berbeda-beda. Ada yang menjadi lampu, kipas angin, komputer, atau televisi. Menurut Hamka, Islam bekerja dengan cara yang mirip. Tauhid dan akhlak adalah energinya, sedangkan budaya merupakan perangkat yang menampilkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hamka menolak anggapan  menjadi muslim berarti harus meniru seluruh ekspresi budaya Arab. Islam memang lahir di Jazirah Arab, tetapi pesannya ditujukan untuk seluruh umat manusia. Yang wajib diikuti adalah nilai dan ajarannya, bukan seluruh bentuk kebudayaan yang mengiringi kelahirannya.

Pandangan ini membuat Hamka melihat budaya lokal bukan sebagai ancaman bagi iman, melainkan sebagai jembatan dakwah. Islam tidak datang untuk menghapus seluruh tradisi yang sudah hidup di tengah masyarakat. Sebaliknya, Islam hadir untuk memperbaiki, menyaring, dan menyempurnakan tradisi agar selaras dengan nilai tauhid dan kemanusiaan. Tidak mengherankan jika Hamka sendiri tampil sebagai muslim Indonesia yang percaya diri. Ia lebih sering mengenakan peci, jas, dan busana Melayu dibandingkan jubah atau imamah Timur Tengah. Dalam ceramah maupun tulisannya, ia menggunakan bahasa Melayu yang lembut, puitis, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Dakwahnya tidak terasa asing karena berbicara dengan bahasa budaya yang dipahami oleh umatnya.

Kebebasan Berpikir: Benteng dari Penjajahan Mental

Jika ada satu hal yang sangat dihargai Hamka, itu adalah akal manusia. Baginya, akal bukan sekadar alat berpikir, tetapi juga anugerah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Dalam kehidupan modern, ancaman terhadap kebebasan berpikir tidak selalu datang dari penjajah atau penguasa. Kadang ia hadir dalam bentuk yang lebih halus: informasi palsu, fanatisme kelompok, budaya ikut-ikutan, hingga kebiasaan menerima pendapat tanpa pernah memeriksanya.Hamka mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati tidak berhenti pada kemerdekaan politik. Sebuah bangsa mungkin sudah merdeka secara fisik, tetapi belum tentu merdeka secara mental. Ketika seseorang tidak berani berpikir kritis dan hanya mengikuti arus, saat itulah ia sebenarnya sedang kehilangan kebebasannya.

Ketika Akal Bertemu dengan Izzah

Bagi Hamka, kebebasan berpikir memiliki hubungan erat dengan konsep izzah atau harga diri. Keduanya ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang mampu berpikir mandiri akan lebih sulit merasa rendah diri di hadapan kelompok lain. Ia tidak mudah silau oleh kemajuan bangsa lain, tetapi juga tidak terjebak pada kesombongan. Ia mampu menghargai dirinya sendiri sekaligus menghormati orang lain. Di sinilah Hamka memperkenalkan konsep yang menarik tentang "urat malu" dan "urat bangga". Urat malu membuat seseorang enggan melakukan keburukan. Sementara urat bangga mendorongnya menjaga martabat dan kehormatan dirinya. Menurut Hamka, penjajahan paling berbahaya bukanlah ketika tanah air direbut, melainkan ketika seseorang kehilangan kepercayaan terhadap dirinya sendiri dan menganggap orang lain selalu lebih unggul dalam segala hal.

Berani Mencoba, Berani Bertumbuh

Salah satu kutipan Hamka : "Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba." Kalimat ini mengandung filosofi hidup yang sangat kuat. Dalam pandangan Hamka, kehidupan dapat dibagi menjadi dua wilayah. Wilayah pertama adalah wilayah manusia: berpikir, bekerja, belajar, dan berusaha sebaik mungkin. Wilayah kedua adalah wilayah Tuhan: menentukan hasil akhir dari setiap usaha tersebut. Masalahnya, banyak orang justru terlalu fokus pada wilayah kedua. Mereka takut gagal sebelum memulai. Akibatnya, ide tidak pernah dieksekusi, peluang tidak pernah dicoba, dan potensi tidak pernah berkembang. Hamka mengingatkan bahwa kegagalan bukanlah kehinaan. Kehinaan yang sesungguhnya adalah menyerah sebelum berusaha.

Agama dan Negara: Dua Pilar yang Saling Menguatkan

Perdebatan mengenai hubungan agama dan negara masih terus berlangsung hingga hari ini. Sebagian memandang keduanya harus dipisahkan secara tegas, sementara yang lain melihat keduanya tidak bisa dipisahkan. Hamka berada pada posisi yang berbeda. Ia memandang agama dan negara sebagai dua pilar yang saling menguatkan. Jika negara adalah tubuh, maka agama adalah ruh yang menghidupkannya. Hukum dan kebijakan memang dapat dibentuk oleh sistem politik, tetapi arah moralnya memerlukan nilai-nilai yang lebih mendasar. Di sinilah agama berperan sebagai sumber etika publik. Hamka tidak melihat adanya pertentangan antara menjadi muslim yang taat dan menjadi warga negara yang nasionalis. Justru sebaliknya, keimanan yang sehat seharusnya melahirkan tanggung jawab sosial yang lebih besar.

Seorang muslim yang memahami agamanya akan terdorong untuk jujur, amanah, disiplin, dan peduli terhadap kepentingan masyarakat. Semua itu merupakan fondasi penting bagi kehidupan berbangsa. Politik Bukan Sekadar Soal Kepintaran Dalam pandangan Hamka, kualitas utama seorang pemimpin bukan pertama-tama kecerdasannya, melainkan karakternya. Kekuasaan ibarat api. Di tangan yang tepat, ia memberi kehangatan dan manfaat. Namun di tangan yang salah, ia dapat membakar seluruh rumah. Karena itu, pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara atau mahir menyusun strategi politik. Ia harus memiliki integritas moral yang kuat. Ketika seorang pemimpin merasa selalu diawasi oleh Tuhan, ia akan lebih berhati-hati dalam menggunakan kekuasaan yang dipercayakan kepadanya. Sebaliknya, ketika kekuasaan terlepas dari tanggung jawab moral, peluang penyalahgunaan wewenang menjadi semakin besar.

Menjadi Teguh Tanpa Menjadi Eksklusif

Meski sangat kuat memegang prinsip-prinsip Islam, Hamka bukanlah tokoh yang anti terhadap keberagaman. Ia justru meyakini bahwa pemahaman agama yang matang akan melahirkan sikap yang lebih toleran. Orang yang yakin terhadap keyakinannya tidak perlu merasa terancam oleh perbedaan. Ia mampu berdialog tanpa kehilangan identitas. Ia dapat menghormati orang lain tanpa harus mengorbankan prinsip yang diyakininya. Pandangan ini sangat relevan bagi Indonesia yang dibangun di atas kemajemukan suku, budaya, dan agama. Bagi Hamka, menjadi muslim yang baik tidak berarti menjauh dari kebangsaan. Sebaliknya, keislaman yang matang seharusnya melahirkan kontribusi nyata bagi kehidupan bersama.

Relevansi Hamka di Era Digital

Di tengah arus globalisasi, banjir informasi, dan polarisasi media sosial, pemikiran Hamka menawarkan tiga pelajaran penting. Pertama, tetaplah menjadi muslim yang berakar pada budaya sendiri tanpa kehilangan nilai-nilai universal Islam. Kedua, gunakan akal secara merdeka dan kritis agar tidak mudah terjebak dalam fanatisme, hoaks, atau penjajahan mental. Ketiga, bangun kehidupan berbangsa dengan fondasi moral yang kuat, sehingga agama tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menghadirkan manfaat sosial. Mungkin inilah pesan terbesar Hamka untuk generasi hari ini: menjadi muslim yang baik tidak harus membuat seseorang menjadi asing di negerinya sendiri. Sebaliknya, semakin dalam seseorang memahami Islam, semakin besar pula kemampuannya untuk mencintai, merawat, dan memajukan tanah airnya.
✍ Kolumnus Almanda Nadya Azzahra.
📝 Editor Dindin Moh Saepudin


Tidak ada komentar:

Posting Komentar