KH. Said Aqil Siradj: Merawat Islam Moderat di Tengah Gelombang Ekstremisme - Lintar

Breaking

Rabu, 01 Juli 2026

KH. Said Aqil Siradj: Merawat Islam Moderat di Tengah Gelombang Ekstremisme

Di era media sosial, menjadi moderat terkadang terasa lebih sulit daripada menjadi ekstrem. Pendapat yang keras sering lebih cepat viral daripada sikap yang tenang. Narasi yang membelah lebih mudah menarik perhatian dibandingkan pesan yang mengajak berdialog. Akibatnya, ruang publik sering dipenuhi pertentangan antara dua kutub: kelompok yang terlalu kaku dalam memahami agama dan kelompok yang terlalu longgar hingga kehilangan pijakan nilai. Di tengah situasi tersebut, pemikiran KH. Said Aqil Siradj menawarkan jalan yang berbeda. Melalui gagasan Islam moderat, Islam Nusantara, dan hubungan harmonis antara Islam dan negara, ia berusaha menunjukkan bahwa keberagamaan yang kuat tidak harus melahirkan sikap eksklusif. Sebaliknya, semakin matang pemahaman seseorang terhadap Islam, semakin besar pula kemampuannya untuk menghargai perbedaan, menjaga persatuan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Ilustrasi Gambar AI

Islam Moderat: Jalan Tengah yang Tidak Kehilangan Arah

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, sikap moderat atau wasathiyah bukanlah bentuk kompromi terhadap ajaran agama. Moderasi justru merupakan cara menjaga keseimbangan agar umat Islam tidak terjebak pada dua kecenderungan yang sama-sama berbahaya: ekstremisme dan liberalisme tanpa batas. KH. Said Aqil Siradj memandang bahwa Islam mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan. Seorang muslim dituntut untuk memperhatikan kehidupan dunia tanpa melupakan akhirat, menggunakan akal tanpa mengabaikan wahyu, serta menjaga identitas keagamaan tanpa memutus hubungan dengan masyarakat yang berbeda.

Mengapa Jalan Tengah Menjadi Penting?

Bayangkan sebuah kendaraan yang melaju di jalan raya. Jika terlalu ke kiri atau terlalu ke kanan, risiko kecelakaan akan semakin besar. Agar sampai pada tujuan, kendaraan harus tetap berada di jalurnya. Begitu pula dengan kehidupan beragama. Ketika agama dipahami secara kaku dan sempit, lahirlah sikap yang mudah menghakimi orang lain, menolak perbedaan, bahkan menganggap kelompok lain sebagai musuh. Sebaliknya, ketika kebebasan dipahami tanpa batas, nilai-nilai dasar agama dapat kehilangan makna dan arah. Islam moderat hadir sebagai jalan tengah yang menjaga keseimbangan antara keteguhan prinsip dan keterbukaan terhadap realitas sosial. Bagi Said Aqil Siradj, keberhasilan dakwah Islam tidak diukur dari seberapa keras seseorang berbicara atas nama agama, melainkan dari seberapa besar agama mampu menghadirkan kedamaian, keadilan, dan kasih sayang dalam kehidupan masyarakat.

Rahmatan lil 'Alamin dalam Kehidupan Nyata

Konsep rahmatan lil 'alamin sering diucapkan, tetapi tidak selalu mudah diwujudkan. Dalam pandangan Said Aqil Siradj, nilai tersebut harus tampak dalam tindakan nyata: menghormati perbedaan, menjaga persaudaraan, membantu sesama, dan menghindari sikap yang merusak harmoni sosial. Islam tidak hanya hadir sebagai ajaran ritual, tetapi juga sebagai kekuatan moral yang mampu membangun kehidupan bersama yang lebih damai dan berkeadaban.

Islam Nusantara: Keikta Islam Bertemu Budaya Lokal

Salah satu gagasan yang paling sering dikaitkan dengan KH. Said Aqil Siradj adalah Islam Nusantara. Sayangnya, konsep ini tidak jarang disalahpahami seolah-olah menciptakan Islam yang berbeda dari Islam pada umumnya. Padahal, yang dimaksud dengan Islam Nusantara bukanlah agama baru atau mazhab baru. Konsep ini menegaskan bahwa ajaran Islam dapat hidup dan berkembang dalam konteks budaya Indonesia tanpa kehilangan substansi ajarannya.

Menjadi Muslim Tidak Harus Menjadi Arab

Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, para ulama tidak datang dengan pendekatan konfrontatif terhadap budaya lokal. Mereka melakukan dakwah secara bertahap, bijaksana, dan penuh kearifan. Wayang, seni budaya, tradisi lokal, hingga bahasa daerah sering digunakan sebagai sarana menyampaikan pesan-pesan keislaman. Strategi ini membuat Islam diterima secara luas tanpa menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Menurut Said Aqil Siradj, ukuran keislaman seseorang tidak terletak pada seberapa banyak unsur budaya Arab yang ditampilkan, melainkan pada seberapa baik ia memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Seorang muslim Indonesia dapat tetap mencintai budaya daerahnya tanpa harus merasa kurang Islami. Selama suatu tradisi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat, budaya tersebut dapat menjadi bagian dari identitas yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Dakwah yang Memahami Konteks

Keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh isi pesan, tetapi juga oleh cara penyampaiannya. Said Aqil Siradj menekankan pentingnya pendekatan yang kontekstual dan adaptif. Masyarakat yang berbeda membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Bahasa dakwah yang efektif di satu daerah belum tentu efektif di daerah lain. maka dakwah yang berhasil adalah dakwah yang mampu memahami budaya, karakter masyarakat, serta tantangan zaman yang dihadapi umat. Dengan cara seperti inilah pesan Islam dapat diterima secara lebih luas tanpa menimbulkan resistensi sosial.

Islam dan NKRI: Tidak Perlu Dipertentangkan

Perdebatan mengenai hubungan Islam dan negara telah berlangsung cukup lama dalam sejarah Indonesia. Sebagian pihak beranggapan bahwa Islam harus diwujudkan dalam bentuk negara agama, sementara yang lain melihat bahwa nilai-nilai Islam dapat dijalankan tanpa harus mengubah bentuk negara. KH. Said Aqil Siradj berada pada posisi yang menekankan substansi dibandingkan simbol formal.Menurutnya, tujuan utama Islam dalam kehidupan berbangsa bukanlah mendirikan negara agama, melainkan menghadirkan nilai-nilai keadilan, kesejahteraan, kemanusiaan, dan moralitas dalam kehidupan masyarakat.

Pancasila dan Nilai-Nilai Islam

Bagi Said Aqil Siradj, tidak ada pertentangan mendasar antara Pancasila dan Islam. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial yang terkandung dalam Pancasila memiliki keselarasan dengan prinsip-prinsip ajaran Islam. Menjadi muslim yang taat tidak bertentangan dengan menjadi warga negara Indonesia yang baik. Keduanya justru dapat berjalan beriringan. Pandangan ini sekaligus menegaskan bahwa komitmen terhadap NKRI bukanlah bentuk pengurangan identitas keagamaan, melainkan bagian dari tanggung jawab kebangsaan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Menjaga Persatuan sebagai Tanggung Jawab Keagamaan

Dalam konteks Indonesia yang majemuk, menjaga persatuan bukan sekadar kewajiban konstitusional, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan. Tugas umat Islam tidak berhenti pada pelaksanaan ibadah individual. Umat juga memiliki tanggung jawab sosial untuk menjaga kerukunan, memperkuat persaudaraan kebangsaan, serta berkontribusi dalam menciptakan kehidupan yang aman dan harmonis. Di tengah meningkatnya polarisasi sosial, menguatnya politik identitas, dan maraknya penyebaran paham ekstrem melalui media digital, pemikiran KH. Said Aqil Siradj menawarkan perspektif yang penting untuk direnungkan kembali.


Melalui konsep Islam moderat, ia mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam beragama. Melalui Islam Nusantara, ia menunjukkan bahwa Islam dapat tumbuh harmonis bersama budaya lokal. Sementara melalui pandangannya tentang hubungan Islam dan negara, ia menegaskan bahwa keislaman dan kebangsaan bukanlah dua identitas yang saling bertentangan. Pada akhirnya, pesan yang ingin disampaikan Said Aqil Siradj cukup sederhana namun mendalam: menjadi muslim yang baik tidak hanya ditunjukkan melalui simbol-simbol keagamaan, tetapi juga melalui kemampuan menghadirkan kedamaian, menjaga persatuan, dan memberikan manfaat bagi kehidupan bersama. Di situlah Islam benar-benar tampil sebagai rahmatan lil 'alamin.


✍ Kolumnus Dias Muftihadi
📝 Editor Dindin Moh Saepudin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar